Kamis, 09 Februari 2012

Sukses dengan membuat sapu.... (Kecil, sederhana, namun besar dan berarti....)

Pertama mendengar akan mengunjungi dan melakukan analisa terhadap  salah satu Usaha Kecil dan Menengah yang memproduksi sapu sepertinya kurang menarik.


Ah masa sih sapu..??  masa iya sih sapu bisa..??

Salah satu UKM  yang akan dikunjungi berlokasi di daerah Purballingga, Jawa Tengah. Seperti biasa sebelum melakukan kunjungan harus membaca artikel dan tulisan mengenai usaha sapu ini, setidaknya bisa mendapatkan informasi mengenai industri ini.  Melalui artikel dan tulisan yang di searching melalui goggle ternyata banyak sekali tulisan yang membahas mengenai usaha sapu tersebut,



Hmmm..Purbalinga, ternyata industri sapu merupakan salah satu produk unggulan dari daerah tersebut..menarik juga..

Beberapa artikel maupun tulisan banyak  menceritakan  mengenai keberhasilan usaha sapu Rayung Pelangi yang dimiliki oleh Bambang Triono.

Wah...nama usaha dan pemiliknya sama dengan data yang sudah diterima...mudah2an dan berharap inilah UKM yang akan dikunjungi....
Wah bener...!! Ternyata usaha yang akan dikunjungi sudah banyak di tulis di internet...banyak orang yang menilai dan kagum atas keberhasilan usaha ini dan pemilikinya..


Oke..menarik...berangkatttttt...

Sekilas mengenai Purbalingga (tulisan ini diabil dari beberapa artikel...)
Kabupaten Purbalingga merupakan bagian dari propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Purbalingga adalah 77.764 Ha 


Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Purbalingga bahwa Purbalingga memiliki potensi yang sangat besar yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan. Potensi-potensi itu adalah padi, kedelai, melati gambir, glagah arjuna, gula kelapa. Glagah arjuna ditanam melalui sistemtumpang sari, kata seorang petani, menghidupi ribuan orang di Kabupaten Purbalingga. Mulai dari sektor hilir hingga hulu, yakni mulai dari PT Perum Perhutani, masyarakat sekitar hutan, pengepul, para perajin sapu, pengusaha, hingga pengekspor.

Tanaman ini unggulan dari Purbalingga yang dimanfaatkan sebagai bahan industri sapu rumah untuk konsumsi domestik dan ekspor dan mampu menembus pasar ekspor ke Korea, Taiwan dan Malaysia. Menurut Dinasperindakop, industri sapu  glagah menyerap  lebih dari 2000 tenaga kerja muda. 



Pemkab Purbalingga memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan baku produk rumah tangga ke sejumlah negara di Asia. Ekspor bahan baku secara besar-besaran diketahui telah menghancurkan sektor kerajinan atau barang jadi di daerah tersebut. Ketika ekspor bahan baku dilakukan, para perajin dan pengusaha mengalami kesulitan bahan baku di daerahnya.

 

Hampir sebagian masyarakat sudah membuat sapu secara turun temurun. Namun demikian dalam proses industri pengolahannya masih menggunakan teknologi tradisional  antara lain  dalam proses pemotongan yang masih menggunakan tangan, serta masih kurangnya daya kreatif dalam mendesain sapu agar lebih menarik dan berkualitas tinggi. 

Para perajin sapu glagah di Purbalingga mengaku kuwalahan memenuhi permintaan pangsa pasar ekspor. Sejumlah negara seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand meminta pasokan sapu glagah model ’Rayung’ dan ’Lakop’ rata-rata 200.000 buah sapu setiap bulannya.


Semua itu tak lepas dari sepak terjang Bambang Triono (32) pemiliki UD Rayung Pelangi, pionir usaha sapu di desa ini. Bambang memulai usaha membuat sapu lantai dan sapu lidi di desanya 13 tahun lalu (1997). Dia selalu dicibir. Sapu dipandang sebagai produk murahan dan tidak ada prospek.


Siapa sih Bambang Triono?? Tulisan di bawah ini saya ambil dari salah satu artikel...

Kisah Sukses Pengusaha Sapu Glagah Purbalingga
Posted by Daplun on 16 April 2011 at 13:47 in Ekonomi & Bisnis |
Purbalingga – Sejak lima tahun terakhir, Dusun Genting, Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jawa Tengah, dikenal sebagai sentra sapu. Setiap bulan, sebanyak 100.000 potong sapu dari desa ini dijual ke Korea Selatan, Malaysia, dan Jepang.




Semua itu tak lepas dari sepak terjang Bambang Triono (32), pionir usaha sapu di desa ini. Bambang memulai usaha membuat sapu lantai dan sapu lidi di desanya 13 tahun lalu. Dia selalu dicibir. Sapu dipandang sebagai produk murahan dan tidak ada prospek.


Dengan sepedanya, setiap hari dia keliling dari desa ke desa di Purbalingga hingga Purwokerto menjajakan sapu buatannya. “Membuat sapu 300 potong, kadang cuma laku separuh dalam sebulan,” tuturnya, beberapa waktu lalu.
Namun, Bambang tak patah semangat. Berkat kerja keras dan kreativitasnya, usaha kerajinan UD Rayung Pelangi miliknya kian berkembang. Bahkan, sapu-sapu buatannya kini diekspor ke Malaysia, Jepang, dan Korsel.


 


Kini, para tetangganya mengikuti jejaknya. Sekitar 200 warga di Desa Karanggambas bahkan menjadi karyawannya. Sebanyak 114 keluarga di Dusun Genting membuat sapu di rumahnya masing-masing dalam bentuk plasma. Sapu-sapu itu lalu disetor ke Bambang untuk dijual.
“Dengan cara itu, mereka dapat membantu ekonomi keluarganya sambil tetap bisa mengasuh anak,” kata Bambang yang mendapat penghargaan sebagai pemuda pelopor tingkat Kabupaten Purbalingga dan Provinsi Jateng tahun 2008.
 

Pilihan hidup
Bekerja membuat sapu sudah dikenal Bambang sejak kecil. Saat di sekolah dasar di desa kelahirannya, Desa Kajongan, Kecamatan Padamara, Purbalingga, dia ikut bekerja membuat sapu di rumah Sudirman, tetangganya. Dia mendapat imbalan Rp 20 per helai bulu sapu. Sehari dia mampu merapikan 100 helai. “Lumayan, sehari bisa dapat Rp 2.000,” katanya.


Lulus sekolah dasar, dia langsung bekerja karena orangtuanya tak punya biaya. Pada usia 13 tahun, dia ikut merantau ke Bandung. Di Kota Kembang itu dia bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah instansi.


“Tiga tahun lebih saya bekerja di Bandung. Setelah itu saya pulang ke Purbalingga,” katanya.
Pada tahun 1997, dengan berbekal uang Rp 1,5 juta hasil bekerja selama tiga tahun di Bandung, Bambang pun memulai usaha membuat sapu.


“Membuat sapu adalah keterampilan yang saya miliki sejak kecil. Karena itu, saya memantapkan diri memilihnya sebagai jalan hidup,” katanya.


Awalnya ia membuat sapu dari bahan ijuk kelapa. Namun, karena kian sulitnya mendapat bahan baku ijuk, ia beralih ke rumput glagah yang ketersediaannya melimpah di Purbalingga serta bulunya yang lebih halus. Selain itu, ia juga membuat sapu lidi.


Pada tahun-tahun awal usaha, Bambang menjual sapunya dengan berkeliling dari kampung ke kampung naik sepeda. Dia jajakan barangnya dari rumah ke rumah. Hingga tiga tahun pertama, cara itu dijalaninya. Sapu tidak laku sudah menjadi pengalamannya setiap hari.
“Pada awal-awal, modal utama saya hanya hati yang besar sebab semua usaha ini tak mudah,” kata Bambang.


Saat berkeliling, Bambang tak sekadar menjajakan sapunya. Dia juga membangun jaringan. Hingga akhirnya, dia dipercaya menyuplai sapu ke sejumlah distributor di Purwokerto dan Purbalingga. Pada awal 2000-an, dia mampu menjual sapu-sapunya ke Tasikmalaya, Bandung, Bogor, hingga Jakarta.
Pada tahun 2002, di tengah usahanya yang kian berkembang, dia mengalami rugi besar. Dia ditipu salah seorang distributor. Selain itu, kredit usahanya macet karena uang pinjaman bank yang semestinya untuk modal usaha dipakainya untuk kredit sepeda motor.
“Itu kesalahan saya yang waktu itu masih minim pengetahuan manajerial. Hampir dua tahun saya vakum. Puluhan karyawan saya pun menganggur,” tutur bapak dua anak ini.
 

Pada tahun 2004, dia berupaya bangkit. Dia bangun kembali usahanya. Manajemen pun dibenahinya. Dia tak lagi sembarangan menggunakan uang usaha.
 

Distributor luar negeri
Pada tahun 2005, sapu Bambang menarik minat distributor sapu asal Malaysia. Distributor itu dikenalnya dari seorang temannya di Bandung, yang juga menjualkan sapunya. Bambang diminta mengirimkan sapu sebanyak 10.000 potong ke Malaysia.
 

Usahanya terus berkembang. Pada tahun 2008, permintaan ekspor pun datang dari Korea Selatan dan Jepang. Semula, pasar sapu di dua negara itu dikuasai sapu asal Myanmar.
Namun, desain yang lebih rapi dan kualitas bulu sapu yang lebih baik membuat sapu Bambang menggeser sapu Myanmar di pasaran Korea Selatan dan Jepang. 


Di Korea Selatan saja, setiap bulan Bambang mengirim sebanyak 80.000 potong sapu. “Saya mempunyai dua distributor di Korsel. Saya kirimi mereka masing-masing desain yang berbeda. Dua distributor itu pun bersaing ketat di negaranya sana. Padahal, yang dijual itu semuanya sapu buatan warga Karanggambas sini,” ungkap Bambang sambil tertawa.
 

Dari semula hanya mampu membuat sapu kurang dari 300 potong per bulan, kini Bambang sudah mampu menjual 110.000 sapu. Dari jumlah itu, 100.000 sapu di antaranya untuk pasar ekspor, sisanya untuk pasar lokal.
 

Sebenarnya, permintaan sapu dari pasar luar negeri sangat besar. Setiap bulan Bambang mendapat permintaan tidak kurang dari 200.000 potong, tetapi yang bisa dipenuhinya baru separuh.
“Keinginan saya adalah dapat memenuhi semua permintaan. Dengan cara itu, akan makin banyak pengangguran di desa ini yang terserap, dan sapu Purbalingga semakin dikenal di luar negeri,” ujarnya






Mengunjungi dan melihat langsung bagaimana usaha Rayung Pelangi...bertemu dan berbocara..bertukar pikiran dengan Bambang Triono banyak memberikan pemikiran yang selama ini tidak terpikirkan..
Pemikiran yang sederhana..namun dengan keuletan dan semangat yang besar mampu merubah segalanya menjadi lebih baik dan berarti.

     

Banyak pengalaman dan pemikiran yang bisa kita tiru dari seorang Bambang Triono...
Nah...inilah sedikit cerita menarik mengenai sorang yang mampu menciptakan  usaha yang kelihatannya kecil namun mampu menghidupi banyak keluarga dan membuka banyak lapangan kerja.

2 komentar:

  1. boleh tuh masih nerima tenaga lagi ngak boss

    BalasHapus
  2. Menarik sekali usaha pembuatan sapu ini, jadi menginspirasi saya untuk segera memulai usaha, terimakasih.

    BalasHapus